Ditulis Oleh: Muhammad Syaifudin, S.Pd.
Rangkaian pertempuran Surabaya di Bulan November 1945 bukan hanya bentuk perjuangan rakyat Surabaya semata, melainkan bukti nyata perjuangan seluruh rakyat Jawa Timur dari berbagai kalangan. Para pejuang yang terdiri dari tentara, pelajar, pedagang, petani, santri dan semua elemen rakyat terpanggil untuk bersama-sama berjuang demi keutuhan NKRI.
Kalimat di atas adalah bagian dari prolog drama peringatan hari pahlawan nasional tahun 2025 oleh murid kelas 5 SD Islam Surya Buana Malang. Tema yang diambil dalam peringatan hari pahlawan tahun ini adalah resolusi jihad dan hari pahlawan nasional. Tema ini sengaja dipilih mengingat adanya isu nasional mendekati peringatan hari pahlawan tahun 2025 yakni isu bentuk feodalisme pondok pesantren yang dimunculkan oleh salah satu stasiun TV swasta nasional. Isu ini menjadi viral di seluruh Indonesia, sehingga memantik seluruh elemen santri maupun alumni pondok pesantren untuk memprotes isu ini.
Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa tidak akan ada Hari Pahlawan 10 November tanpa Pertempuran 10 November di Surabaya, di mana Belanda membonceng Sekutu yang dipimpin Inggris, mencoba menduduki Indonesia kembali, namun dihadang arek-arek Suroboyo dengan semangat rawe-rawe rantas malang-malang putung, dan pekikan “Allahu Akbar!”.
Tidak akan ada Pertempuran 10 November tanpa Resolusi Jihad. Resolusi berjuang melawan penjajah yang membakar semangat 60 juta kaum muslimin. Islamophobia dulu digalakkan Belanda untuk meredam ajaran Islam yang mengajarkan jihad atau perang sabil untuk melawan mereka. Dari Perang Aceh, Perang Padri, Perang Jawa Diponegoro yang nyaris membangkrutkan mereka, dan banyak lainnya. Pasca Perang Jawa, Belanda bahkan menyusupkan islamophobia dalam budaya. Membuat naskah atau serat palsu, dan lain sebagainya. Sampai saat ini bahkan serat palsu itu masih dipakai kalangan islamophobia.
“Jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah,” kata Bung Karno. Drama special hari pahlawan tahun 2025 dimaksudkan sebagai bahan pembelajaran agar para murid mengenal sejarah dan memahami bahwa santri atau pelajar juga memiliki andil yang besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad, Perhatikanlah sejarahmu, untuk masa depanmu. (Alquran Surat 59: 18)




